Reog di Mata Alexander, Pelajar Belgia

alex

Reog di Mata Alexander, Pelajar Belgia

November 14, 2016
|
0 Komentar
|

Program pertukaran pelajar antar negara semakin marak dilakukan. Tidak saja para pelajar Indonesia yang pergi ke berbagai negara, tapi sebaliknya, banyak pelajar asing yang ‘mondok’ dan belajar di sini. Untuk program jangka pendek, program ini biasanya dilakukan ‘hanya’ dalam hitungan pekan. Tapi ada juga yang cukup lama jangka waktunya, misalnya satu tahun, atau disesuaikan dengan kalender akademik.

Salah seorang pelajar yang sedang ‘mondok’ di Indonesia adalah Alexander Hugo Huinen, atau yang biasa disapa Alex. Umurnya baru 18 tahun. Ia berasal dari negara yang bendera nasionalnya punya tiga warna, hitam, kuning dan merah, dengan desain vertikal, yakni Belgia.

Untuk selama hampir satu tahun, sejak September 2015 sampai Juli 2016 nanti, Alex ‘mondok’ di rumah salah seorang warga yang menjadi host fam atau host family di Surabaya, Jawa Timur. Kenapa enggak di Jakarta? “I choice Indonesia for the rich culture, the great temperature and the great food. I didn’t choose the city I live in, my organization did that. Now I have been living in Surabaya for five months already and I’ll stay here until July,” ujar Alex yang untuk sementara ini bersekolah di SMAN 19 yang berlokasi di Kenjeran, Surabaya. Alex duduk di bangku kelas 11.

Jujur saja, saya belum pernah ketemu muka dengan Alex. Saya mewawancarainya melalui layanan komunikasi WhatsApp. Heheheeee… mungkin ini kali pertama saya wawancara narasumber menggunakan layanan messenger gratisan kayak ‘gini. Pake bahasa Inggris yang jauh dari lancar pula… ooaalaahhhh.

Sempat saya bilang ke Alex, “Okey kita wawancara menggunakan Bahasa Inggris. But my English not good yaaaaa …”. Wakakakakkkkkkk, sebuah pengakuan jujur, because my English is not really ‘cas cis cus’.

Oh ya, nomor telepon seluler Alex pun masih memakai kode luar negeri untuk Belgia yakni +32 468 27 ** **. Nomor ini saya peroleh dari Pak Tri Suharyanto. Beliau ini yang menjadi host father selama Alex ‘mondok’ di Surabaya. Kebetulan, Pak Tri juga pernah menjadi narasumber saya. Beliau ini adalah Ketua Umum Himpunan Paguyuban Reog Ponorogo dam Jaranan Kota Surabaya (HIPREJS).

Lantas bagaimana ceritanya sampai Pak Tri yang menjadi induk semang tempat Alex mondok? “Kebetulan, anak saya, Andreanto Surya Putra, yang kini sudah semester enam di Universitas Airlangga Program Studi Hubungan Internasional merupakan volunteer di organisasi tempat Alex bergabung, yaitu AFS Bina Antar Budaya. Nah, karena Andre aktif di AFS, maka saya sebagai orangtuanya pun ditawari menjadi orangtua asuh untuk warga asing, utamanya pelajar, yang ingin menetap untuk sementara di Surabaya,” jelas bapak yang tahun ini berusia 52 tahun.

AFS adalah kependekan dari American Field Services. Daripada salah terjemah, lebih baik saya kutip saja melalui situsnya, penjelasan tentang apa itu AFS. AFS Intercultural Programs is an international, voluntary, non-governmental, non-profit organization that provides intercultural learning opportunities to help people develop the knowledge, skills and understanding needed to create a more just and peaceful world.

Tentang AFS ini, Alex menjelaskan, “Well, AFS is an organization that makes it possible to go study in a different country. Students all over the world can join and choose a country they want to go study in for a year. AFS means American Field Service, it used to be only American, but it is now a worldwide organization”.

Meski AFS memilih Surabaya sebagai lokasi ‘mondok’, Alex mengaku tidak menyesal. Justru, ia mengaku sangat suka dengan ibukota Jawa Timur ini. Termasuk suka dengan wisata kulinernya. “I like Surabaya. It is so different from where I live and I like that. My favorite food here is NASI BEBEK or NASI GORENG. And I don’t really have a favorite tourism location, but I like going to the mall,” ungkapnya.

Karena ‘mondok’ di rumah Pak Tri yang sehari-hari tidak jauh ‘habitat’-nya seni Reog dan Jaranan, maka Alex pun menjadi semakin mudah untuk mengenal, menyaksikan langsung bahkan belajar untuk mempraktikkan kesenian budaya tradisional khas Jawa Timur ini.

Kepada saya, Alex menilai bahwa Reog adalah seni budaya yang baru pertama kali disaksikannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, September tahun kemarin. “I think it’s great. It is one of the reasons I came to Indonesia to experience different culture and traditions and Reog is a great example of that,” aku penyuka kuliner Jawa Timur ini.

‘Tuh … bangga dong, Indonesia punya Reog. Pelajar Belgia seperti Alex saja mengakui segala keindahan seni budaya yang sudah didaftarkan hak cipta keseniannya dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004. Dengan begitu, Kementerian Hukum dan HAM RI telah mengetahui dan bahkan melegalkannya.

Tidak hanya kagum pada Reog. Alex juga ternyata ikut ‘icip-icip’ bagaimana berkesenian Reog. Ia belajar banyak beberapa gerakan tari Reog. Menurut Pak Tri Suharyanto, Alex bahkan mau belajar latihan Tari Klono Swandono. Ini adalah tarian yang menjadi bahagian pementasan Reog. Mengisahkan tentang Raja Kelono, seorang raja sakti mandraguna yang punya pusaka andalan yang dapat melindungi diri dan kegagahannya, berupa cemeti yang sangat ampuh dan diberi nama Kyai Pecut Samandiman.

“Alex sangat suka dengan Reog dan Jaranan. Bahkan, tanpa sungkan dan malu-malu, ia belajar bersama dengan anak-abak pemula yang lain. Utamanya, ia mempelajari dasar-dasar tari Klono Swandono,” jelas Pak Tri.

Kepada saya, Alex pun mengatakan hal yang sama. Hanya saja, ia kemudian merasa kesulitan untuk melakukan dasar-dasar tarian yang menuntut fleksibilitas tubuh. “I did try learning it in the beginning. But I gave up since I’m terrible at it. I’m not very flexible or coordinated. It is a difficult dance,” ujarnya.

Kalau pembaca pernah membaca tulisan saya berjudul Seniman Reog Berharap Pemberdayaan (Kompasiana, 13 November 2015), di sana disebutkan bagaimana Pak Tri Suharyanto selaku Ketua Umum HIPREJS melakukan banyak improvisasi gerak dan pentas dalam setiap show Reog. Misalnya, ia menyisipkan episode lawakan yang memancing gelak tawa penonton, akrobatik, makan api, sampai mengupas sabut kelapa dengan gigi.

“Saya ingin mengubah agar penampilan Reog ini semakin bisa diterima masyarakat, dengan melakukan sejumlah improvisasi. Sama seperti yang dilakukan oleh seniman Wayang Kulit yang bisa berkolaborasi dengan seni Campur Sari maupun lawakan. Semua kami lakukan asalkan tidak menyimpang dari syariat agama. Improvisasi seperti ini, dulunya tidak ada dalam adegan seni budaya Reog,” urai Pak Tri mengungkapkan alasan improvisasi.

Nah, rupanya apa yang dimunculkan Pak Tri mengenai sasaran. Terbukti, Alex mengaku sangat menggemari bagian di mana ada aksi akrobatik dalam penampilan Reog. Juga, ketika adegan permainan cemeti raksasa disuguhkan. “I like the part where the children do a lot of acrobatics and also the part where they use like a very big whip,” jelas Alex yang baru-baru ini terpaksa pulang kembali ke Belgia selama enam hari, lantaran mendengar kabar duka bahwa sang nenek tercinta meninggal dunia.

“It is to creepy”

Ada hal menarik. Ketika kepada Alex saya tanyakan, apakah ia melihat bahwa seni dan budaya Reog adalah sesuatu hal yang berkaitan dengan mistik, karena beberapa adegan menunjukkan hal-hal yang tidak masuk akal? Dengan cepat ia menjawab sambil menunjukkan contoh adegan yang tidak logis dalam pikirannya. Misalnya, ketika ada pertunjukan sang seniman makan beling kaca.

“Well, last time I went there where some people who were possessed and I had to give them some glass to eat and he ate it. That made me doubt if he really was possessed or not,” tutur Alex.

Menyimak penuturannya, saya pun memberi semangat Alex supaya ia mau mencoba dan mempelajari pertunjukan makan beling itu. Sayangnya Alex menolak. Begini ia bilang, “No, I don’t. It is to creepy”. Alex juga mengatakan, ia sempat menyaksikan bagaimana seniman Reog yang seperti sudah tidak ‘kerasukan’ dan usai memakan beling, menjadi mengalami luka berdarah serta ketidaknyamanan yang teramat sangat. “I didn’t ask to my father host about that show. But I saw after they got out of being possessed they were bleeding and were not feeling well”.

Sebagai pelajar yang baru mengenal Reog, Alex mengaku kurang memahami gelar cerita yang terkandung dalam pementasannya. Tapi syukurnya Alex mau belajar. Termasuk, ia mempelajari skenario dan babakan cerita Reog melalui dunia maya. “I never knew what the story was about. But I did look some basic information up on Wikipedia,” kata Alex yang mengaku tidak tahu bagaimana awal mula sejarah Reog yang sebenarnya, sehingga Malaysia seperti sempat hendak mengklaim seni budaya adiluhung asal Indonesia ini. “I don’t know about who had Reog first since I don’t know the history behind it very well”.

Tak hanya soal atraksi seni Reog. Alex juga semakin memahami bagaimana menjalani hidup dan berkehidupan melalui seni budaya Reog. Maksudnya, para seniman mencari nafkah melalui pementasan demi pementasan. Biasanya, seperti pernah diakui Pak Tri, apabila ada pemesanan untuk mementaskan Reog, tarif yang dikenakan adalah sebesar Rp 5 juta. Dengan catatan, bila lokasinya jauh, maka harus ditambah ekstra biaya transportasi para kru dan piranti pertujukan. Nah, mengomentari hal ini, Alex mengatakan, dirinya pernah beberapa kali menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa para seniman Reog memperoleh penghasilan sangat minim.

“I have seen a my host-father perform a few time’s and it is mostly local and not that big so it is only natural that you can get enough money. I think that if they want to make more money they will have to perform on a bigger level,” saran Alex.

Soal regenerasi yang berlangsung dalam kesenian budaya Reog ini, Alex mengaku cukup senang karena banyak anak-anak muda yang kemudian terus-menerus mempelajari, bahkan turut serta dalam setiap pementasan. “I just know that there are a lot of young children performing to,” ujar Alex.

Dengan sedikit banyak mengetahui bagaimana seni budaya Reog dan Jaranan itu, Alex yakin bahwa masyarakat pasti akan sangat suka dengan Reog. Asalkan, sarannya, Reog mampu mengadaptasi tari-tarian maupun seni budaya di negara mana Reog akan ditampilkan. Wowwwww … sebuah ide brilian yang muncul dari Alex.

“I think people in the world would always like to see traditional dances from other countries. And I suggest that if they want to promote Reog the they have to adapt the dance to the country they are performing in. Reog tells a story and if the story is told in Indonesian then people will be less interested,” saran Alex yang berjanji akan terus mempromosikan Indonesia dan seni budaya Reog di AFS.

Kalau anak muda dari luar negeri saja senang dan bangga dengan seni budaya tradisional Indonesia sendiri, kenapa kita malah enggak suka?

Mari, terus cintai seni dan budaya bangsa sendiri!

Sumber :

http://www.kompasiana.com/gapey-sandy/reog-di-mata-alexander-pelajar-belgia_56a82d78bb22bd4a05ebdc06