Sejarah HIPREJS

logo-hiprejs

Sebagai sebuah kesenian Reog Ponorogo dan Jaranan memang sudah menyebar di luar kota asalnya sendiri dan bahkan hingga ke mancanegara. Hampir di tiap kota di Indonesia pasti ada paguyuban yang fokus pada kesenian Reog Ponorogo. Hal ini juga terjadi di Surabaya. Sebagai jantung Provinsi Jawa Timur menjadikan Kota Surabaya sebagai muara kesenian-kesenian yang ada di Jawa Timur.

Reog Ponorogo sebagai sebuah ikon kesenian Jawa Timur memang membutuhkan perhatian khusus di tengah modernisasi jaman yang terus berkembang. Meskipun di Surabaya banyak terdapat paguyuban reog dan jaranan akan tetapi perbedaan visi dan misi dari masing-masing paguyuban sering kali menjadi sebuah kendala tersendiri untuk mewujudkan suatu upaya yang utuh dalam mempertahankan kesenian ini. Organisasi reog dan jaranan yang ada pun belum mampu menampung aspirasi anggota. Permasalahan ini semakin rumit ketika terjadi penyimpangan dalam menjalankan AD/ART secara benar.

Berawal dari permasalahan tersebut dibentuklah Himpunan Paguyuban Reog Ponorogo dan Jaranan di Kota Surabaya (HIPREJS) pada tanggal 3 Februari 2013. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah penampung aspirasi paguyuban reog dan jaranan yang menjadi anggota. Pada tanggal 24 Mei 2013 HIPREJS mengukuhkan diri sebagai sebuah organisasi independen yang legal secara hukum dengan Badan Hukum Akte Notaris Hadi Soetopo, SH., M.Kn No. 202 Tanggal 24 Mei 2013.

Makna Logo HIPREJS :

Gambar Dadak Merak yang dikelilingi Kuda Kepang jumlahnya dua (2) dengan latar belakangbegron gambar Tuguh Pahlawan. Warna Hijau dikelilingi warna Kuning emas  melambangkan kedamaian dan keindahan.

Visi dan Misi

Melestarikan budaya bangsa yang adi luhung dan menjadikan generasi muda berkarya untuk kemajuan bangsa serta membentuk generasi muda menjadi seniman yang berbudaya dan ber-ahlak mulia.

Motto dan semboyan

Maju Terus Pantang Mundur !