Sinopsis Reog dan Jaranan

reog-1

Dadak Merak

Kesenian  tradisional Reog Ponorogo dan Jarananan merupakan sebuah kesenian rakyat yang penuh dengan nilai-nilai historis dan legendaris yang telah berkembang sejak zaman dahulu kala sampai sekarang, bukan hanya menjadi kebanggaan daerah asal kesenian ini tercipta melainkan sudah menjadi aset Nasional Bangsa Indonesia.

Reog dan Jaranan mempunyai kesamaan didalam alur ceritanya, hanya saja ada penambahan beberapa tokoh didalam cerita seni Jaranan.

Asal usul Reog/Jaranan semula disebut “Barongan” yang diciptakan oleh Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam, dimana pada waktu itu dipakai untuk Satire (Sindiran) terhadap Raja Majapahit  Prabu Brawijaya V (Bre Kertabumi) karena pada saat itu raja yang berkuasa belum mampu melaksanakan tugas-tugas  kerajaan secara tertip, adil dan bijaksana, sebab raja pada saat itu dipengaruhi oleh sang permaisuri, dan budaya rikuh pakewuh sangat kuat dimasyarakat oleh sebab itu dibuatnya kesenian “Barongan” sebagai satire (sindiran) terhadap sang raja.

Pada masa kekuasaan Batoro Katong, Ki Ageng Mirah-lah (Pendamping Batoro Katong) yang tetap melestarikan kesenian “Barongan”  sebagai sarana pemersatu  dan pengumpul masa yang efektif sekaligus sebagai media informasi dan komunikasi langsung dengan masyarakat saat itu.  Dimana Betoro Katong masih merupakan  keturunan Raja   Majapahit   (Brawijaya V) dari  garwo selir Putri Cempo, sedangkan Betoro Katong sebelum diberi tanah pardikan diponorogo dan menjadi Bupati pertama di Ponorogo, sempat belajar ilmu agama dengan Kanjeng Sunan Ampel di Ampel Denta yang masih merupakan Pamannya sendiri dan mempunyai saudara kandung bernama Jinbun Patah diberi Tanah Pardikan di Demak yang kemudian menjadi Raja Islam pertama di Demak.

monumen-bantarangin

Monumen Bantarangin di Ponorogo

Dengan daya cipta dan rekayasa yang sangat kuat dan tepat Ki Ageng Mirah membuat cerita legendaris, yaitu terciptanya Kerajaan Bantarangin dengan raja muda yang gagah perkasa yang bernama “Klana Sewandono” sedang kasmaran    (klana wuyung) dengan Putri Kerajaan Kediri yaitu “Dewi Songgolangit” lalu sang raja mengutus sang Mahapati Pujonggo Anom (Bujang Ganong) dan beberapa prajurit berkuda untuk melamar, namun di tengah perjalanan dihadang oleh Raja Singobarong dari kerajaan Lodoyo(Blitar), yang sama-sama terpikat dengan kecantikan Dewi Songgolangit, terjadilah pertarungan yang sangat dahyat, karena  Raja Singobarong sangat dikdaya, sakti mandraguna sehingga para prajurit dan Patih Bujang Ganong tidak mampuh menandingi kesaktian Raja Singobarong, lalu sang Patih melapor kekalahan tersebut pada Raja Kelono Sewandono, berangkatlah sang Raja untuk bertarung dengan Raja Singobarong, dengan berbekal kesaktian serta dapat  berubah wujud menjadi Binatang (Celengsrenggi) dan (Ularnaga) “versi Jaranan” serta mempunyai senjata pamungkas yang bernama Cemeti Samandiman sehingga Raja Kelono Sewandono dengan muda bisa menaklukan Raja Singo Barong, sehingga terjadilah iring-iringan raja Kelono Sewandono untuk memboyong Putri Dewi Songgolangit (Kediri) menuju ke kerajaan Bantarangin.

Kronologi peristiwa seperti ini menjadi sebuah kesenian bernama: Reog / Jaranan.

Berkat jasa Ki Ageng Mirah yang membuat cerita dengan daya cipta yang sangat kuat cerita ini berkembang di masyarakat Ponorogo bahkan di yakini bahwa cerita itu adalah benar-benar terjadi.

 Dalam pertunjukan Reog dan Jaranan ada beberapa tokoh yang muncul dalam tarian tersebut :


 Tari Klono Swandono

Tari Kelono Swandono mengambarkan sosok raja muda yang tampan dan gagah berani dari kerajaan Bantarangin (Ponorogo jaman dahulu) dan mempunyai pusaka sakti berbentuk pecut (cemeti) yang bernama Samandiman.


Tari Dadak Merak

Tari Dadak Merak menggambatkan sosok Raja singobarong saat bertemu utusan Raja klono Swandono utk melamar Putri Kediri, dimana raja Singobarong juga terpikat dengan kecantikan Dewi Songgolangit maka terjadilah pertempuran yang seru.


Tari Pujonggo Anom

Tari Pujonggo Anom ( Bujang Ganong) menggambarkan sosok patih dari kerajaan Bantarangin yang linca, energik dan gerakannya sangat lucu, kemanupun Raja Klono Swandono berada sang patih selalu mendampingi.


Tari Jathil

Tari Jathil menggambarkan sosok prajurit dari pasukan berkuda kerajaan Bantarangin.


Tari Warok

Tari Warok menggambarkan sosok orang yang di tuakan (sesepuh), seseorang bisa menjadi Warok bila  sudah menguasai Ilmu  baik lahir maupun batin (jawa: wong sing bisa mumpuni salwiringreh, agal alus).


Tari Potro Joyo

Tari Potro Joyo/Potro Tholo mengambarkan sosok abdi dalem (Pembantu) mewakili sosok rakyat kecil biasanya dipakai sebagai komedi (pelawak).